Senin, 31 Januari 2011

Mereka & Kami

-Postingan M. Nur Pratama
Siswa Penggiat Bike To School:

Sehari hari menahan diri dari gelitikan 'konsumtif' bermotor ke sekolah,
Setiap hari meringis diperlakukan tidak adil di belantara lalulintas kota,
Setiap hari tabah dikentuti polusi knalpot rakus bbm.
Bukan, bukan kami tidak punya motor, bukan pula kami tidak mampu membeli bbm,
Hanya yang kami tahu, BBM akan habis dalam waktu singkat, disia-siakan kemacetan dan kemanjaan kota,
Semoga masih tersisa untuk adik adik kami esok......


Kami hanya bisa senyum melihat tingkah mereka. Tanpa sombong atau apapun, kami tidak punya lampu Kami hanya bisa senyum melihat tingkah mereka. Tanpa sombong atau apapun, kami tidak punya lampu “sign” untuk belok kanan atau kiri, tapi kami punya tangan dan kami tahu kapan mereka lewat serta apa yang harus kami lakukan, kami juga memakai helm, walau kami tahu 25km/jam itu adalah kecepatan maksimal kami di jalan raya, kami pun tahu kalau peraturan dibuat hanya berlaku untuk mereka, tapi haram bagi kami untuk melanggar peraturan tersebut.
Mereka dengan angkuh mengabaikan “bangjo”, kami hanya tertawa melihat kelakuan mereka dari samping. Sungguh rusak mereka, begitu pula dengan bangsa kita. Peraturan dibuat untuk dilanggar, anggapan mereka seakan acuh terhadap segalanya. Nyawa kami jauh lebih berharga daripada mereka, karena kami menghargai hidup, kami menghormati diri kami, berbeda dengan mereka.
Uang bukanlah alasan bagi mereka untuk bersikap angkuh. Kami tahu kalau kami tidak kena bayaran, tapi kami segan untuk meminta jalan dari mereka. Mengalah hanya satu-satunya jalan yang kami dapat lakukan, bukan yang lain. Luas 1×1,5 meter tidaklah besar bagi mereka, walau kami pun tahu kalau kami juga menghasilkan limbah karbon dioksida, sama dengan mereka. Percaya tak percaya, maka percayalah!

Jumat, 28 Januari 2011

Gowes Pandeglang Dengan Senior CAI







Dear Goweser dan agan agan lain,
Setelah khatam gowes juz I (baca serie satu) , gowes Kerukunan juz II (baca serie dua) di ulang lagi di Pandeglang.
Yang datang walau usia senior, tetapi kelas badak semua. Tanjakan, turunan dilahap habis,
Elevasi dari 178 meter dpl hingga 650 meter dpl, bersahabat bukan?
Jumlah jarak 21km dengan karakter jalan aspal desa, single track (pinggir sungai, tanggul sawah, kebun dan hutan), maaf kepada peserta.....atas permintaan salah seorang peserta jalur aspal mulus hanya diseberangi saja....

Jam 07.00 rombongan sudah mulai unloading di depan Pondok Nara, wah cuaca bersahabat, terang, walau semalam hujan turun kami syukuri saja sebagai pembersihan track yang akan dilalui.

Sebelum start Mas Andri minta jatah isi tanki dengan teh manis dan pisgor + odading dibonusi dengan bacang.
Belum cukup juga, beliau minta plastik dan memasukan sisa yang ada di tampah ke dalam tas gendong.
Hiks..... ini sebagai penutup kekecewaan karena nasi goreng sea food Pondok tidak keluar katanya.

Group setelah berdoa, langsung line up, mutari alun alun, permisi ke mbahurekso gn karang... (tukang es maksudnya, sekalian pesen 5 porsi es campur buat nanti finish).

Jalur pedesaan langsung dilahap, menyapa anak anak kecil yang berlarian mengejar "sepeda gigi!!" teriak mereka (maksudnya sepedanya ada pemindah gigi nya). Jalanan basah, duuh beberapa ruas ini dulunya makadam yang enak dilahap pake hi speed sambil ajrut ajrutan, sekarang sudah diaspal dengan pasir batu. Tetapi buat sebagaian goweser sih masih tetap jadi track dambaan.

Tetapi tidak lama, group masuk ke single track (jalur setapak) tanah, menurun, ada tangga dari akar tanah... dan lumayan panjang.
Om Rustam unjuk kebolehan, semua goweser diminta turunkan seat post (tempat duduk) pada max down, gunanya agar lincah dan menghindari salto saat menukik diturunan. "Rebahkan beban di belakang" demikian instruksinya. Wah perhatian banget om satu ini.

Hasilnya lumayan manjur! Semua selamat dibawah.... walau ada juga yang nuntun....
Wah alhamdulullah jazakumullohu khoiron, Yang penting selamet....

Track dilanjut ke jalur kebun, hingga ada tanggul sawah. Goweser yang badannya besar dan agak kurang lincah (terganjal magic jar di pinggang) harus membayarnya dengan mandi disawah, nemanin kebo mandi.....

Uchin yang sedang berada di kota Palu sempat merasakan getarannya, dan mengkonfirmasi apakah ada hubungannya dengan trip Pandeglang kali ini? Yes, 86! demikian dikonfirmasi om Rustam, gempa berkekuatan 5,8 SR bersumber dari kebo / eh goweser jatuh barusan....

Ada juga break time di jalur pedesaan Pasauran, semua bekal dilahap habis. Mas Andri kini yang unjuk kebolehan mengalahkan yang lain....

Hingga setelah break, tiba tiba mas Paryanto perlu pertolongan segera karena sudah tidak kuat ingin buang hajat. Agak repot karena penduduk hanya memberinya cangkul (dol bon). Walah.... padahal sudah pembukaan 9 !!!

Tidak menyerah, rombongan menggowes mengejar pak Paryanto yang ngacir full speed didepan mencari pertolongan 'toilet' yang lumayan layak. Akhirnya 3km kemudian setelah menerjang jalur kebun dan hutan jati, kami menemukan gedung Diklat Provinsi, yang memiliki sarana 'melahirkan' yang nyaman.. Hahhhhhhhhh akhirnya.....selamat ya pak... ikut lega nih!!

Sepanjang perjalanan goweser selain tarik nafas, saling hibur, ketawa ketiwi tidak lupa saling bernasihat, sepintas terpikir oleh kami nasib generasi penerus putra putri / adik adik kami yang mungkin ingin juga berkomunitas seperti kami, bergaul sesama dalam komunitas, bernasihat, saling menjaga, saling berbagi ilmu, saling memberi (walau sekedar pisang goreng, bacang dan jajanan di perjalanan). Para bapak bapak saja senang berkomunitas, apalagi anak anak remaja..... dimana dan bersama siapa mereka bergaul menimba ilmu pengalaman dalam menjaga keimanan?

Timbulah niatan bersama, gowes juz III akan kita buat lebih meriah, mengajak goweser remaja yang setelah didata lumayan banyak, biar lebih rame dan dapat dijadikan ajang bersilaturahim mengasah asih 6 tobiat luhur...


Tepat jam 12.00 group selesai menuruni beberapa drop off dari pepohonan dan akar gunung karang, kami finish di tempat semula. mampir di es mbah rekso gn karang, Trip ditutup dengan nasi timbel Pondok Nara.
Group setelah mandi dan sholat, kembali ke Serang, Kramatwatu dan Cilegon, alhamdulillah selamat tidak kurang suatu apapun. Kecuali pengalaman, kesan dan ilmu yang bertambah.

Selasa, 04 Januari 2011

BELAJAR DARI KEKALAHAN

“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )

Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
- Duduk diam dan tarik nafas panjang
- Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
- Ambil pelajaran dari kekalahan itu
- Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
- Hembuskan nafas secepat mungkin
- Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin!

“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.

Surat Untuk Firman Utina


(Tulisan ini saya dari milist sahabat yang tidak mencantumkan siapakah penulis artikel menginspirasi ini)

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata "bisa" belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah.
Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.
Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.
Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.
Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.
Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Teladan seorang ayah

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah - Will Rogers
Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.
Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu." Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku."
Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."
Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin."
Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.
Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.
Setelah menikah, kuceritakan kepada Susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. "Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."
Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah. "Mungkin popoknya basah," kata Susan, lalu dibawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.
Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. "Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin. Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.
Sebuah cerita yang luar biasa bukan ? Inilah sebuah cerita yang menunjukkan besarnya cinta seorang ayah ke anaknya agar anaknya memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya. Semoga cerita ini menginspirasi kita semua.